Materi

FASE BULAN

Pada siang hari, Matahari sangat dominan dengan sinarnya sehingga Bulan sulit untuk dapat kamu amati, begitupun dengan bintang-bintang yang lain juga sulit kamu amati. Saat Matahari sudah terbenam, barulah cahaya Bulan tampak sebagai penerang di langit yang luas. Bulan yang kamu amati tampak dalam bentuk/fase yang berbeda-beda. Kadang Bulan berbentuk  sabit, lingkaran, setengah lingkaran dan yang lainnya.    Tahukah kamu apa yang menyebabkan Bulan tampak berfase-fase? Jawaban dari pertanyaan ini akan kamu temukan dengan membaca dan mengikuti kegiatan yang ada di bab ini hingga selesai.

Setiap planet dalam Tata Surya umumnya memiliki satelit yang bergerak mengelilingi mereka. Layaknya planet yang melakukan gerak rotasi dan revolusi, setiap satelit juga melakukan kedua gerakan tersebut, bahkan selain berevolusi terhadap planet tempatnya beredar, satelit juga melakukan revolusi terhadap Matahari. Pada bab ini akan dibahas salah satu satelit yang ada dalam Tata Surya yaitu Bulan. Bulan (Gambar 3.1) adalah satu-satunya satelit alami yang dimiliki oleh Bumi. Pergerakan Bulan merupakan sesuatu yang penting untuk dipelajari baik itu gerak rotasi Bulan ataupun gerak revolusi Bulan. Banyak fenomena alam yang muncul akibat dari pergerakan Bulan diantaranya gerhana Bulan, gerhana Matahari, dan adanya fase-fase Bulan. Sebelum kamu mempelajari gerak pada Bulan, terlebih dahulu kamu perlu untuk mengetahui karakteristik dari satelit semata wayang Bumi ini.

1. Bulan Tidak Dapat Menghasilkan Cahaya Sendiri

Bulan termasuk ke dalam lima satelit alami terbesar yang ada dalam Tata Surya. Diameter Bulan adalah 3475 km atau setara dengan 1/3 diameter Bumi. Salah satu karakteristik dari Bulan adalah tidak dapat menghasilkan cahaya sendiri. Bulan dapat terlihat cerah bercahaya di malam hari bukanlah karena Bulan menghasilkan cahaya sendiri akan tetapi Bulan hanya memantulkan sinar dari Matahari sehingga dapat kita lihat. Coba kamu perhatikan benda-benda yang ada di kamarmu seperti tembok, lemari, meja, dan yang lainnya. Ketika lampu kamarmu kamu matikan, maka benda-benda tersebut tidak akan terlihat jelas bahkan tidak terlihat sama sekali. Mengapa demikan? Ya, tentu saja setiap benda tersebut tidak dapat terlihat karena benda-benda tersebut tidak dapat menghasilkan cahaya sendiri. Tembok, lemari, dan meja hanya memantulkan sinar dari lampu saja sehingga dapat kita lihat. Begitupun dengan Bulan yang juga tidak dapat menghasilkan cahaya sendiri sehingga jika tidak disinari Matahari Bulan tidak akan dapat kita lihat. Bukti bahwa Bulan tidak dapat menghasilkan cahaya sendiri adalah saat fenomena gerhana Bulan ataupun gerhana Matahari terjadi.

Saat gerhana Bulan, sinar Matahari yang menuju ke Bulan terhalangi oleh Bumi sehingga Bulan tidak mendapatkan sinar Matahari, pada saat itu Bulan akan tampak gelap bahkan tidak terlihat ketika diamati di Bumi. Jika Bulan mampu menghasilkan cahaya sendiri maka seharusnya pada setiap saat Bulan dapat kita amati termasuk saat tidak mendapatkan sinar Matahari. Demikian juga pada saat gerhana Matahari, sinar Matahari yang menuju Bumi terhalangi oleh Bulan sehingga sebagian wilayah Bumi akan menjadi gelap (di siang hari). Jika Bulan mampu menghasilkan cahaya sendiri maka seharusnya bagian Bumi tersebut tidak menjadi gelap karena akan diterangi oleh cahaya Bulan sebagai pengganti sinar Matahari, namun faktanya bagian Bumi yang tertutupi dari sinar Matahari tetap menjadi gelap. Pembahasan lebih dalam mengenai gerhana Bulan dan gerhana Matahari ada pada bab 4 yang membahas secara khusus fenomena gerhana.

2. Bulan Tidak Memiliki Atmosfer

Coba kamu perhatikan kembali Gambar 3.1, pada Gambar tersebut terlihat ada bagian Bulan yang cerah dan ada bagian yang redup. Secara umum bagian yang cerah pada Bulan adalah permukaan Bulan yang memiliki banyak bukit dan kawah sedangkan bagian yang redup adalah permukaan Bulan yang memiliki sedikit kawah. Kawah pada permukaan Bulan adalah lubang-lubang bekas jatuhnya benda-benda langit seperti komet, asteroid, dan meteorid. Gambar 3.3 menunjukkan salah satu kawah yang ada pada Bulan.

Kawah yang ada di Bulan sudah sangat banyak dan akan terus menerus bertambah, karena kemungkinan benda langit seperti komet, asteroid, dan meteorid untuk jatuh ke Bulan terus ada. Menurut data yang diberikan NASA (National Aeronautics and Space Administration) yang merupakan lembaga pemerintah milik Amerika Serikat yang konsentrasi melakukan penelitian luar angkasa, pada tanggal 17 Maret 2013 lalu ada sebuah meteorid yang menghantam permukaan Bulan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Kejadian tersebut menyebabkan bertambahnya kawah yang ada pada Bulan karena tumbukan meteorid tadi pasti meninggalkan bekas lubang di permukaan Bulan. Pertanyaannya adalah mengapa meteorid, komet dan asteroid “mudah” untuk jatuh ke permukaan Bulan sehingga meninggalkan banyak kawah di sana? Di sisi lain, benda-benda langit tersebut sangat “jarang” jatuh ke Bumi, jika kita meninjau dua kondisi ini apa yang membedakan antara Bulan dan Bumi?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ikutilah kegiatan Aku Bisa 3.1 berikut!

Berdasarkan percobaan di atas, Bola A dapat kamu misalkan sebagai model dari Bulan sedangkan Bola B adalah model dari Bumi. Tetesan air adalah benda langit yang jatuh ke Bulan dan Bumi. Tisu berperan sebagai lapisan pelindung Bumi yang bernama atmosfer. Dengan adanya atmosfer benda-benda langit tidak akan mudah untuk jatuh ke permukaan Bumi karena akan dihadang oleh atmosfer.

Salah satu karakteristik Bulan adalah tidak memiliki atmosfer sebagai lapisan pelindung, akibatnya benda-benda langit seperti komet, asteroid, dan meteorid akan “mudah” untuk jatuh ke Bulan. Pada percobaan di atas, Bola A sengaja tidak dilapisi dengan tisu sehingga menunjukkan bahwa Bulan tidak memiliki lapisan pelindung dan akibatnya ketika ditetesi air Bola A langsung basah. Adapun Bola B dilapisi dengan tisu sehingga menunjukkan bahwa Bumi dilindungi oleh atmosfer, dan ketika ditetesi air Bola B tidak basah karena air langsung diserap oleh tisu.

Ketika kamu mengamati Bulan di malam hari, bagaimanakah bentuk Bulan yang terlihat olehmu? Kemudian jika kamu mengamati Bulan dalam waktu beberapa hari, apakah bentuk Bulan yang kamu amati selalu sama setiap harinya? Curahkanlah hal-hal yang ada di pikiranmu mengenai bentuk Bulan yang pernah kamu amati pada kegiatan Aku Bisa 3.2 berikut.

  1. Bentuk “Asli” Bulan Selalu Tetap Namun “Fase” Bulan Berubah-ubah

Penampakan Bulan yang teramati oleh kita di Bumi dikenal dengan istilah fase Bulan. Dari kegiatan Aku Bisa 3.2 dan Ayo Berdiskusi 3.1 yang telah kamu lakukan, tentu kamu sudah dapat mengetahui bahwa fase Bulan yang kamu amati setiap harinya selalu berubah-ubah. Terkadang Bulan terlihat dalam fase separuh seperti Gambar 3.5 (a), terkadang juga Bulan terlihat dalam fase purnama seperti Gambar 3.5 (B). Bukan hanya fase Bulan separuh dan Bulan purnama saja, Bulan juga terlihat memiliki bentuk selain dari kedua fase di atas, contohnya adalah saat Bulan terlihat berbentuk sabit yang dikenal dengan istilah fase Bulan sabit. Beragamnya fase Bulan terjadi bukan karena bentuk “asli” Bulan yang berubah, akan tetapi beragamnya fase Bulan tersebut muncul akibat dari gerak Bumi dan Bulan relatif terhadap Matahari. Bulan memiliki bentuk asli yang tidak pernah berubah yaitu berbentuk bola sama seperti Bumi.

Walaupun fase Bulan (bentuk Bulan yang teramati di Bumi) selalu berubah-ubah setiap waktunya, namun bentuk “asli” Bulan selalu tetap. Sampai pada bagian ini kamu harus sudah dapat menjelaskan perbedaan fase Bulan dengan bentuk asli Bulan. Lakukanlah kegiatan Aku Bisa 3.3 berikut agar kamu bisa lebih memahami perbedaan antara fase Bulan dan bentuk asli Bulan.

Perhatikan kembali Gambar 3.5 di atas, Saat Bulan berada dalam fase Bulan separuh  seperti Gambar 3.5 (a) bukan berarti bentuk asli dari Bulan adalah setengah lingkaran, dan ketika Bulan berada pada fase Bulan sabit, bukan berarti bentuk asli dari Bulan adalah seperti sabit. Bagaimanapun fase Bulan yang teramati olehmu, bentuk asli dari Bulan selalu sama yaitu berbentuk bola. Pada pembahasan selanjutnya akan dijelaskan mengapa Bulan memiliki banyak fase serta bagaimana proses terjadinya fase-fase Bulan tersebut.

2. Fase-fase Bulan

Fase-fase Bulan adalah berbagai bentuk Bulan yang teramati di Bumi. Penting untuk dijelaskan kembali bahwa terdapat perbedaan antara fase Bulan dengan bentuk asli Bulan. Fase Bulan merupakan bentuk Bulan yang teramati di Bumi dan akan terus-menerus berubah seiring berjalannya waktu. Adapun bentuk asli dari Bulan tidak pernah berubah dan selalu tetap berbentuk bola. Secara umum fase Bulan dapat dibagi menjadi 5 jenis seperti yang ada pada tabel berikut.

Dari 5 jenis fase Bulan di atas, fase Bulan sabit, Bulan separuh, dan gibbous dibagi lagi masing-masing menjadi dua bagian berdasarkan waktu teramatinya di Bumi. Untuk memahami karakteristik dari setiap fase Bulan, perhatikanlah penjelasan berikut ini.

3. Siklus Fase Bulan

Perubahan fase Bulan dari fase yang satu ke fase yang lainnya terjadi dalam satu keteraturan sehingga dari keteraturan tersebut manusia dapat mengambil banyak manfaat. Misalkan pada suatu malam kita mengamati Bulan tengah berada pada fase Bulan purnama, kemudian seiring bertambahnya waktu fase Bulan akan terus berubah setiap malamnya menjadi fase-fase yang lain secara teratur. Pada saat fase Bulan kembali menjadi fase Bulan purnama, maka telah berlangsung satu kali siklus fase Bulan.

Gambar 3.6 menunjukkan contoh siklus fase Bulan mulai dari Bulan baru (1) kemudian berubah menjadi Bulan sabit awal (2), Bulan separuh awal (3), gibbous awal (4), Bulan purnama (5). Setelah Bulan mencapai fase purnama, fase Bulan kembali berubah menjadi fase gibbous akhir (6), Bulan separuh akhir (7), Bulan sabit akhir (8) dan Fase Bulan baru. Pada saat fase Bulan kembali ke fase Bulan baru, maka telah berlangsung satu kali siklus fase Bulan. Waktu yang diperlukan Bulan untuk melakukan siklus ini disebut periode sinodis Bulan.

Keteraturan perubahan fase dari Bulan menyebabkan fase Bulan dijadikan sebagai petunjuk waktu. Sistem penanggalan yang mengacu pada keteraturan perubahan fase Bulan dikenal sebagai penanggalan lunar/penanggalan Bulan, salah satu contohnya adalah penanggalan Hijriyah. Uji pemahamanmu mengenai siklus fase Bulan dengan mengikuti kegiatan Aku Bisa 3.4. Diskusikan jawabanmu dengan guru dan temanmu. Kuasailah materi siklus fase Bulan dengan baik untuk mulai mempelajari materi selanjutnya.

4. Periode Sinodis dan Sideris

Fase Bulan yang kamu amati di langit malam terus berubah seiring berjalannya waktu. Misalkan pada suatu malam kamu melihat Bulan berada dalam fase purnama, beberapa malam kemudian fase Bulan berubah menjadi fase gibbous akhir, kemudian setelah itu berubah menjadi fase separuh akhir, fase sabit akhir, fase Bulan baru, fase sabit awal, fase separuh awal, fase gibbous awal, sampai pada akhirnya Bulan kembali pada fase purnama. Waktu yang diperlukan Bulan untuk kembali ke fase purnama disebut periode sinodis Bulan. Secara umum, satu kali periode sinodis Bulan  adalah waktu yang diperlukan Bulan untuk menempuh satu kali siklus fase Bulan, misalkan dari Bulan purnama sampai Bulan purnama berikutnya disebut satu kali periode sinodis atau dari fase Bulan baru sampai fase Bulan baru berikutnya juga disebut satu kali periode sinodis Bulan. Selain periode sinodis Bulan, dikenal juga istilah periode sideris Bulan. Periode sideris Bulan adalah waktu yang diperlukan Bulan untuk berevolusi atau mengelilingi Bumi satu kali putaran sejauh 360 derajat. Periode sinodis Bulan berlangsung 29,53 hari sedangkan periode sideris Bulan berlangsung sekitar 27,32 hari.

Perhatikan Gambar 3.7, ada tiga kondisi yang ditunjukkan oleh Gambar. Pada kondisi pertama, kamu akan mulai menghitung periode sinodis dan sideris Bulan, pada kondisi ini Bulan tengah dalam fase Bulan baru. Setelah itu mulailah terjadi perubahan fase Bulan, Bumi bergerak mengelilingi Matahari, Bulan bergerak mengelilingi Bumi, dan akibat kedua gerakan tersebut fase Bulan terus berubah. 27,32 hari setelah kondisi pertama, Bulan telah sempurna mengelilingi Bumi  (Perhatikan! Posisi Bulan terhadap Bumi adalah sama pada kondisi 1 dan 2 yang menunjukkan bahwa Bulan telah melakukan satu kali putaran secara sempurna), ini merupakan kondisi kedua dimana periode sideris telah berlangsung satu kali. Fase Bulan baru belum muncul pada kondisi kedua, perlu tambahan waktu sekitar 2,21 hari lagi agar fase Bulan baru muncul kembali. Ketika fase Bulan Baru muncul (kondisi ketiga) maka periode sinodis telah berlangsung satu kali.

Uraian matematis di atas kembali menjelaskan kepadamu perbedaan antara periode sinodis dan sideris. Ditinjau dari segi waktu keduanya berbeda sekitar 2,21 hari sedangkan jika ditinjau dari putaran Bulan mengelilingi Bumi, maka periode sideris terjadi saat Bulan telah memutari Bumi 360derajad dan periode sinodis terjadi saat Bulan telah memutari Bumi 389,12derajad.

5. Mengapa Bulan Memiliki Banyak Fase?

Setelah sampai pada bagian ini, kamu tentu telah memahami bahwa Bulan tampak di Bumi dalam fase yang beragam. Lebih jauh lagi kamu telah mengetahui karakteristik dari masing-masing fase Bulan tersebut. Lalu apakah sebenarnya yang menyebabkan Bulan memiliki banyak fase?

Ada beberapa faktor yang menjadikan Bulan memiliki banyak fase. Faktor pertama adalah Bulan tidak dapat menghasilkan cahaya sendiri. Perhatikanlah Matahari di siang hari, apakah Matahari memiliki fase-fase? Tentu jawabannya tidak, Matahari selalu teramati dalam fase bulat sempurna. Hal tersebut juga akan berlaku pada Bulan jika Bulan dapat menghasilkan cahaya sendiri seperti Matahari, Bulan akan selalu tampak pada fase Purnama. Akan tetapi karena Bulan tidak dapat menghasilkan cahaya sendiri, maka fase Bulan yang teramati selalu berubah-ubah.

Faktor kedua yang meyebabkan Bulan memiliki banyak fase adalah Bulan memantulkan sinar Matahari. Coba kamu perhatikan setiap benda yang ada di kamarmu. Apa yang akan terjadi pada tembok, lemari, pintu dan benda-benda lainnya jika lampu kamarmu kamu padamkan? Ya, tentu benda-benda tersebut tidak akan terlihat. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa benda-benda tersebut tidak dapat terlihat ketika lampu kamar dipadamkan? Jawabannya adalah karena benda-benda tersebut tidak dapat menghasilkan cahaya sendiri, benda-benda tersebut hanya memantulkan sinar dari lampu sehingga dapat terlihat. Hal tersebut juga berlaku pada Bulan, karena Bulan tidak dapat menghasilkan cahaya sendiri maka Bulan seharusnya tampak gelap dan tidak dapat diamati, namun karena Bulan disinari oleh Matahari, kemudian sinar tersebut dipantulkan oleh Bulan ke Bumi, maka kita dapat mengamati Bulan yang bercahaya dengan fase-fasenya yang beragam.

Faktor ketiga merupakan faktor utama yang menyebabkan Bulan memiliki banyak fase yaitu adanya pergerakan Bumi dan Bulan relatif terhadap Matahari. Perhatikanlah Gambar 3.8 di atas. Gambar 3.8 menunjukkan dua kondisi yang berbeda disebabkan gerak revolusi Bulan terhadap Bumi. Pada kondisi 1 Bulan teramati dalam fase Bulan separuh, sedangkan pada kondisi 2 Bulan teramati dalam fase purnama. Secara umum pada kondisi 1 dan 2 Bulan tetap mendapatkan sinar Matahari sehingga tampak bercahaya, namun ketika Bulan berada pada kondisi 1, ½ bagian Bulan yang bercahaya tidak dapat terlihat oleh pengamat, sedangkan pada kondisi 2 seluruh bagian Bulan yang bercahaya atau tersinari Matahari dapat terlihat oleh pengamat.

Gambar 3.9 menunjukkan beragam posisi Bulan akibat geraknya terhadap Bumi dan fase-fase yang muncul pada masing-masing posisi. Posisi 3 Bulan di Gambar 3.9 sama dengan kondisi 1 Bulan di Gambar 3.8, sedangkan posisi 5 Bulan di Gambar 3.9 sama dengan kondisi 2 Bulan di Gambar 3.8.

Faktor terakhir yang menjadikan Bulan memiliki banyak fase adalah kemiringan orbit Bulan terhadap orbit Bumi. Bulan mengelilingi Bumi pada orbit yang miring (Gambar 3.10). Jika orbit Bulan tidak miring, maka Bulan tidak akan bisa diamati saat berada di belakang Bumi (posisi 5 pada Gambar 3.9) karena sinar Matahari yang menuju Bulan terhalangi Bumi sehingga Bulan tidak mendapatkan sinar Matahari. Kemiringan orbit Bulan menjadikan Bulan “mungkin” untuk mendapatkan sinar Matahari ketika berada di belakang Bumi sehingga terjadi fase purnama. Selanjutnya, ikutilah kegiatan Aku Bisa 3.5 berikut ini agar pemahamanmu mengenai fase Bulan menjadi semakin kuat.

6. Periode Rotasi Bulan sama dengan Periode Revolusinya

Agar kamu dapat memahami dengan baik materi yang akan disampaikan, terlebih dahulu kamu harus mengerjakan kegiatan Aku Bisa 3.6 berikut.

Jika kita perhatikan kembali permukaan Bulan yang selalu tampak di Bumi, maka kita akan melihat ada wilayah gelap dan ada wilayah terang pada permukaan Bulan tersebut. Wilayah gelap memiliki sebuah pola yang memberikan imajinasi tersendiri ketika kita melihatnya. Ada orang yang ketika melihat wilayah gelap pada permukaan Bulan, ia seperti sedang melihat kelinci, adapula orang yang seolah melihat lengan kepiting, dan masih banyak lagi imajinasi yang muncul ketika mengamati wilayah gelap pada permukaan Bulan. Lalu apakah sebenarnya yang ada pada wilayah gelap dan wilayah terang? Apa yang membedakan kedua wilayah tersebut? Mengapa ada wilayah yang terang dan ada wilayah yang gelap pada permukaan Bulan?

Pertanyaan di atas mungkin sulit di jawab jika kamu mengamati Bulan tanpa menggunakan alat bantu apapun. Namun ketika kamu menggunakan alat bantu seperti teleskop saat mengamati permukaan Bulan, maka kamu dapat dengan mudah menjawab pertanyaan di atas dikarenakan kamu dapat mengamati permukaan Bulan jauh lebih jelas dibandingkan dengan pengamatan tanpa menggunakan teleskop. Pengamatan menggunakan teleskop menunjukkan bahwa wilayah gelap pada permukaan Bulan adalah lautan (Mare) yaitu daerah yang memiliki sedikit kawah, sedangkan wilayah terang adalah dataran tinggi (Terrae) yang memiliki banyak kawah. Penamaan wilayah gelap dengan istilah “lautan” sebenarnya kurang tepat dikarenakan di Bulan tidak ada lautan. Penamaan tersebut dikarenakan jika diamati sekilas, wilayah gelap di permukaan Bulan mirip seperti lautan. Lebih jauh lagi, perbedaan kecerahan di permukaan Bulan ternyata disebabkan oleh perbedaan material batuan yang terkandung di wilayah terang dan gelap. Batuan penyusun daerah dataran tinggi atau wilayah terang adalah Anorthosit yang mengandung banyak kalsium dan alumunium silikat. Adapun mare atau daerah gelap disusun oleh batuan Basalt yang merupakan lava beku. Selain lautan dan dataran tinggi, pada permukaan Bulan juga terdapat banyak lubang kecil (Crater) yang tersebar baik di wilayah terang maupun di wilayah gelap. Gambar 3.11 menunjukkan pemetaan letak Mare dan Creater di permukaan Bulan.

Ketika awal terbentuk, permukaan Bulan diperkiraan tidaklah seperti bentuknya yang sekarang. Menurut para ilmuwan, saat awal terbentuk tidak ada kawah ataupun lubang kecil pada Bulan. Seluruh permukaan Bulan datar tanpa ada lubang sama sekali. Namun akibat benturan yang terjadi antara Bulan dengan benda-benda langit seperti komet, meteorid, dan asteroid yang jatuh ke Bulan, permukaan Bulan menjadi berlubang. Dengan kata lain lubang yang ada pada permukaan Bulan merupakan bekas yang ditinggalkan benda-benda langit yang jatuh ke Bulan.  Selanjutnya, ayo coba kerjakan kegiatan Aku Bisa 3.7 berikut!

Dari kegiatan di atas, kamu mengetahui bahwa setiap fase Bulan yang teramati sebenarnya menunjukkan permukaan Bulan yang sama karena kawah-kawah yang teramati di permukaan Bulan juga selalu sama. Hal tersebut menunjukkan bahwa permukaan Bulan yang menghadap ke Bumi hanya tampak satu sisi disetiap waktu sedang sisi yang lainnya tidak pernah terlihat oleh para pengamat di muka Bumi. Para astronom menamakan sisi Bulan yang tidak pernah terlihat dari Bumi dengan sebutan “Far Side” atau Sisi Jauh dan sisi Bulan yang selalu tampak dari Bumi disebut dengan “Near Side” atau sisi dekat. Permukaan “Far Side” atau sisi jauh Bulan (Gambar 3.12) hampir sebagian besar di hiasi oleh dataran tinggi (Terrae) dengan kawah-kawah berukuran kecil hingga besar dan hanya sedikit jumlah lautan (Mare) yang dapat kita temukan di permukaan ini.

Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa Bulan juga bergerak rotasi dan revolusi layaknya sebuah planet. Lalu jika Bulan berotasi mengapa sisi jauh Bulan tidak pernah teramati di Bumi? Bukankah jika Bulan berputar maka setiap sisinya menjadi dapat teramati?

Agar kamu dapat menjawab pertanyaan di atas, ikutilah langkah-langkah percobaan sederhana berikut!

  1. Kamu adalah Bulan, Coba lakukan gerak rotasi sepert Bulan!
  2. Setelah melakukan gerak rotasi, Sekarang lakukanlah gerak revolusi Bulan, jadikan 2 orang temanmu sebagai pusat gerakmu (2 orang temanmu berperan sebagai Bumi, masing-masing menghadap kearah yang berlawanan).
  3. Setelah itu, lakukanlah gerak rotasi dan revolusi secara bersamaan!
  4. Lakukan gerak rotasi sebanyak 2 – 3 kali dalam satu kali berevolusi!
  5. Kemudian catatlah bagian yang terlihat oleh masing-masing temanmu yang berjumlah 2 orang tersebut, misalkan ketika kamu melakukan gerak revolusi temanmu yang menghadap ke arah barat melihat bagian wajahmu ketika kamu melewatinya, kemudian temanmu yang menghadap arah Timur melihat bagian kepalamu saat kamu melewatinya.
  6. Lakukanlah satu kali gerak rotasi dalam satu kali berevolusi!
  7. Catatlah bagian yang terlihat dari wajahmu oleh masing-masing temanmu!
  8. Analisis perbedaan hasil yang kamu dan teman sekelompokmu dapatkan  pada langkah ke 5 dan 7.

Dari percobaan sederhana di atas, kita mendapatkan jawaban mengapa permukaan Bulan yang menghadap ke Bumi selalu sama. Jawabannya terletak pada periode rotasi dan revolusi Bulan. Ketika kamu melakukan gerak rotasi lebih dari satu kali saat mengelilingi teman-temanmu, maka teman-temanmu akan melihat penampakan yang berbeda, maksudnya diantara mereka mungkin ada yang melihat kepalamu dan ada juga yang melihat wajahmu. Namun disaat kamu mengelilingi teman-temanmu dan hanya melakukan satu kali gerak rotasi maka teman-temanmu akan melihat permukaan yang sama, sebagai contoh bisa jadi mereka semua melihat wajahmu seperti Gambar 3.13. Tahukah kamu bahwa saat kamu mengelilingi teman-temanmu dan berotasi lebih dari satu kali, hal tersebut menunjukkan periode rotasimu tidak sama dengan periode revolusimu. Adapun saat kamu mengelilingi teman-temanmu dan hanya melakukan satu kali gerak rotasi, hal tersebut menunjukkan periode rotasimu sama dengan periode revolusimu. Ilustrasi ini juga berlaku pada Bulan, ketika periode rotasi dan revolusi Bulan sama, maka kamu akan melihat permukaan Bulan yang menghadap ke Bumi selalu sama.

Allah Ta’ala telah mengatur alam semesta yang Dia ciptakan dalam suatu sistem keteraturan yang sangat indah. Semua berjalan secara teratur, tidak tumpang tindih sehingga alam semesta menjadi seimbang dan menghasilkan banyak manfaat bagi manusia. Salah satu keteraturan alam yang senantiasa mengiri kita adalah siklus fase Bulan. Fase Bulan silih berganti menemani kita setiap malam dengan pergantian yang sangat teratur. Keteraturan pergantian fase Bulan telah kamu pelajari sebelumnya di bagian siklus fase Bulan. Keteraturan pergantian fase Bulan dimanfaatkan dengan baik menjadi suatu sistem penanggalan yang dikenal sebagai penanggalan Hijriyah.

Kalender Hijriyah yang digunakan umat Islam bahkan umat non Islam merupakan salah satu sistem kalender yang berlandaskan gerak Bulan. Periode satu bulan dalam sistem kalender Hijriyah sama dengan periode sinodis Bulan yaitu 29,5 hari. Ingat kembali bahwa yang dimaksud periode sinodis Bulan adalah waktu yang diperlukan Bulan untuk kembali ke fase awalnya. Periode satu tahun dalam kalender Hijriyah adalah 354 hari yang terbagi menjadi 12 bulan yaitu Muharam, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sa’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulkhoidah, Dzulhijjah. Banyaknya hari dalam setiap Bulan ditetapkan berdasarkan hasil pengamatan Hilal setiap perkiraan awal Bulan. Selain dengan mengamati Hilal, jumlah hari dalam satu Bulan dapat ditetapkan dengan perhitungan atau metode hisab. Menurut metode hisab, dalam satu Bulan jumlah hari berganti-ganti antara 29 dan 30, atau dapat kita katakan dalam 12 bulan terdapat 6 bulan yang memiliki jumlah hari 29 dan 6 bulan yang memiliki jumlah hari 30.

12 x 29,5 hari = 354 hari (Periode 1 tahun Hijriyah)

354 hari = ( 6 x 29 hari ) + ( 6 x 30 hari )

354 hari = 174 hari + 180 hari

Umat Islam menggunakan kalender Hijriyah dalam menetapkan waktu-waktu peribadahan seperti Puasa, Wukuf, hari raya, dan yang lainnya. Hal tersebut sesuai dengan perintah Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

“Dialah yang menjadikan Matahari bersinar dan Bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS Yunus : 5)

1. Menentukan Hilal Menurut Pandangan Syariah/Agama Islam

Penting bagi seorang muslim untuk mengetahui cara menentukan awal bulan terutama pada bulan-bulan tertentu seperti bulan Ramadhan dan syawal menurut tuntunan agama Islam. Secara umum, syariat telah menetapkan dua cara untuk menentukan awal dan akhir Bulan. Dua cara tersebut adalah:

a. Ru’yatul Hilal (melihat Hilal dengan mata telanjang ataupun berbantuan alat)

Hilal adalah nama lain dari fase Bulan sabit awal yang bentuknya masih sangat tipis. Walaupun hanya berupa garis tipis, Hilal tetap dapat diamati tanpa bantuan alat bantu apapun. Namun, para ulama membolehkan untuk menggunakan teropong atau alat bantu lainnya untuk melihat Hilal. Hilal muncul di ufuk Barat tepat setelah Matahari terbenam.

b. Cara Menentukan Awal Bulan Jika Hilal Tidak Teramati

Jika Hilal tidak tampak, maka solusinya adalah dengan menggenapkan umur bulan menjadi 30 hari. Misalkan kamu sedang berada di bulan Sya’ban tepatnya pada tanggal 29 Sya’ban, kemudian kamu berusaha untuk mengamati Hilal guna menentukan apakah besok paginya kamu mulai melakukan ibadah puasa Ramadhan atau tidak. Jika Hilal teramati dengan segala ketentuannya, maka keesokan harinya masuk pada bulan baru yaitu tanggal 1 Ramadhan dan kamu harus mulai melakukan ibadah puasa, namun jika Hilal tidak teramati maka kita harus menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari atau dengan kata lain besok paginya belum masuk Bulan Ramadhan tetapi masih tanggal 30 Sya’ban.

Kedua cara menentukan Hilal di atas, didasari Hadist dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Berpuasalah karena melihatnya (Hilal), berbukalah karena melihatnya (Hilal), jika pengelihatan kalian terhalang maka sempurnakanlah bulan sya’ban jadi 30 hari” (HR. Bukhari 1909)

2. Mengikuti Pemerintah dalam Penentuan Awal Bulan

Harus kamu ingat dan kamu yakini bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk bersatu bukan berpecah-belah, maka Islam memerintahkan kita untuk taat kepada pemerintah selama pemerintah tersebut Muslim dan tidak menyeru kepada maksiat. Demikian juga halnya perkara menetukan awal Bulan, dengan taat pada keputusan pemerintah, maka akan dicapai persatuan dalam hal ini khususnya di Negeri kita tercinta. Dan sikap taat terhadap pemerintah ditunjukkan oleh beberapa ayat Al Quran dan Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diantaranya:

“Hari puasa adalah hari ketika orang-orang berpuasa, Idul Fitri adalah hari ketika orang-orang berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika orang-orang menyembelih” (HR. Tirmidzi 632)

As Sindi menjelaskan hadist di atas, “Nampak dari hadist ini bahwa urusan waktu puasa, lebaran dan idul adha, bukanlah urusan masing-masing individu, dan tidak boleh bersendiri dalam hal ini. Namun ini adalah urusan pemerintah dan al jama’ah. Oleh karena itu wajib bagi setiap orang untuk tunduk kepada pemerintah dalam urusan ini. Berdasarkan Hadist ini juga, jika seseorang melihat Hilal namun pemerintah menolak persaksiannya, maka hendaknya orang itu tidak menetapkan sesuatu bagi dirinya sendiri, melainkan ia hendaknya mengikuti pemerintah” (Hasyiah As Sindi, 1/509).

Dan keterangan yang lain, dari hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Orang-orang melihat Hilal, maka aku kabarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku melihatnya. Lalu beliau memerintahkan orang-orang untuk berpuasa” (HR. Abu Daud 2342)

Hadist yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Umar di atas menunjukkan bahwa urusan penetapan puasa diserahkan kepada pemerintah bukan diserahkan kepada masing-masing individu atau kelompok masyarakat.

Firman Allah Ta’ala:

“Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya serta ulil amri kalian” (QS. An Nisa: 59)

Dengan berdasarkan keterangan-keterangan di atas, maka taat kepada pemerintah dalam hal penentuan awal puasa merupakan hal yang dapat menjauhkan kita dari berbagai macam perselisihan tentang penentuan awal atau akhir bulan.

3. Perbedaan dalam Penentuan Hilal

Telah menjadi rahasia umum bahwa di Negara Indonesia kerap terjadi perbedaan antara beberapa organisasi/lembaga dalam menetapkan awal bulan. Perbedaan mulainya puasa Ramadhan atau perbedaan waktu perayaan Idul fitri sudah tidak aneh di tengah-tengah masyarakat.  Pada dasarnya semua organisasi yang berbeda sama-sama menjadikan Hilal sebagai acuan penentu dalam menetapkan awal Bulan. Faktor yang menimbulkan adanya perbedaan diantara beberapa organisasi adalah terkait kriteria Hilal yang dijadikan acuan sebagai penentu awal Bulan. Salah satu kriteria yang dimaksud adalah ketinggian Hilal di langit. Perhatikanlah Gambar 3.15 berikut.

Gambar 3.15 (a) menunjukkan lintasan gerak semu harian Matahari dan Bulan. Separuh lintasan berwarna kuning yang artinya lintasan tersebut terletak di atas Horizon dan benda langit yang berada di lintasan tersebut posisinya bernilai positif. Separuh lintasan yang lain berwarna hitam terletak di bawah Horizon. Benda langit yang berada di lintasan hitam posisinya bernilai negatif. Pada Gambar 3.15 (a) Bulan memiliki posisi positif atau terletak di atas Horizon, sedangkan Matahari yang sudah terbenam memiliki posisi negatif atau terletak di bawah Horizon. Semua organisasi sepakat bahwa Hilal yang dijadikan acuan penentu awal Bulan posisinya harus di atas Horizon, namun mereka berselisih terkait ketinggian Hilal tersebut. Sebagian mengatakan Hilal harus memiliki ketinggian  2-derajad agar sah dijadikan sebagai acuan. Sebagian yang lain mengatakan Hilal tidak harus memiliki ketinggian 2-derajad, yang terpenting adalah Hilal berada di atas Horizon walaupun ketinggiannya kurang dari 2-derajad. Dengan dua landasan kriteria Hilal yang berbeda tersebut, dapat dipastikan jika Hilal ternyata posisinya di atas Horizon namun kurang dari 2-derajad, pasti akan terjadi perbedaan dalam penentuan awal Bulan. Amatilah Gambar 3.15 (b) agar kamu memahami maksud dari ketinggian Hilal di langit.

Penjelasan di atas hanya secuil gambaran terkait perbedaan penentuan awal Bulan yang terjadi di Indonesia. Masih banyak faktor-faktor yang menjadikan perbedaan itu muncul namun tidak di bahas di bahan ajar ini. Semoga pembahasan singkat terkait masalah perbedaan penentuan awal Bulan ini, menjadi dorongan bagi kamu untuk mempelajarinya lebih dalam sehingga kamu dapat lebih bijak dalam menghadapi perbedaan yang ada.

1. Bulan Tidak Memiliki Atmosfer

Salah satu pelajaran yang dapat kita ambil setelah mempelajari Bulan berserta gerak dan fasenya adalah pentingnya atmosfer sebagai pelindung suatu planet. Apa itu atmosfer? Atmosfer adalah lapisa-lapisan gas yang menyelimuti suatu Planet dan menjaga planet tersebut dari bahaya interaksinya dengan benda langit yang lain. Diantara bahaya yang dapat terjadi pada suatu planet adalah jatuhnya meteorid atau benda langit lain pada planet tersebut. Dengan adanya atmosfer, meteorid tidak akan mudah untuk jatuh ke permukaan Bumi karena harus melewati atmosfer yang berlapis-lapis agar dapat sampai ke permukaan Bumi. Sebelum sampai ke permukaan Bumi, meteorid biasanya telah hancur akibat interaksinya dengan atmosfer sehingga tidak lagi berbahaya bagi Bumi (Gambar 3.16). Pada Bulan tidak terdapat atmosfer sebagai pelindungnya, oleh karena itu permukaan Bulan penuh dengan kawah-kawah yang merupakan bekas jatuhnya meteorid atau benda-benda langit lainnya. Jika Bumi tidak memiliki atmosfer, maka Bumi akan mengalami apa yang dialami Bulan, akan banyak meteorid yang jatuh ke Bumi dan merusak daratan-daratan di Bumi sehingga tidak akan ada kenyamanan bagi penduduk Bumi.

Walaupun Bumi telah dilindungi oleh atmosfer, bukan berarti Bumi telah aman sepenuhnya dari jatuhnya benda-benda langit. Hal ini dibuktikan dengan jatuhnya suatu meteorid di Bumi tepatnya di Arizona Amerika yang hingga kini masih meninggalkan bekas jatuhnya seperti ditunjukkan Gambar 3.17. Ukuran meteorid yang sangat besar menyebabkan meteorid belum hancur sempurna ketika melewati atmosfer, sehingga meteorid akan terus melaju hingga ke Bumi. Berdasarkan pembahasan di atas, bagaimana kiranya jika manusia hidup di Bulan yang tidak memiliki atmosfer sehingga rentan dijatuhi benda-benda langit seperti meteorid, komet, dan juga asteroid. Tentu manusia tidak bisa merasakan ketenangan seperti hidup di Bumi, maka sungguh besar nikmat Allah Ta’ala yang menjadikan Bumi sebaik-baik tempat persinggahan.

2. Di Bulan Sangat Sunyi Senyap

Jika kamu ingin tinggal di Bulan, maka kamu harus mampu berkomunikasi dengan bahasa isyarat atau tanpa suara. Mengapa? Karena di Bulan tidak ada udara, sehingga suara kita tidak dapat terdengar walaupun kita berteriak sekeras-kerasnya. Udara adalah medium perantara agar suara atau bunyi dapat berpindah dari sumber bunyi ke pendengar. Jika udara tidak ada, maka bunyi tidak dapat berpindah dan pendengar tidak akan mendengar Bunyi sedikitpun.

Selain sunyi senyap, di Bulan juga ternyata akan selalu gelap gulita. Ya, jika di Bumi kamu dapat memandang langit yang membiru di siang hari atau yang berwarna kemerahan di senja hari, maka di Bulan semuanya akan terlihat hitam atau gelap gulita. Mengapa demikian? jawabannya karena di Bulan tidak ada atmosfer. Warna langit yang kamu lihat di Bumi merupakan warna sinar Matahari yang diurai oleh atmosfer sehingga menyebar dan memenuhi seluruh penjuru langit. Karena di Bulan tidak ada atmosfer, maka sinar Matahari tidak akan menyebar melainkan terfokus pada satu titik, sehingga langit di Bulan akan tetap gelap gulita.

Rangkuman

  • Bulan merupakan sumber penerangan bagi Bumi di malam hari.
  • Bulan tidak dapat menghasilkan cahaya sendiri seperti bintang.
  • Cahaya yang dipancarkan Bulan, bukanlah berasal dari cahaya Bulan itu sendiri akan tetapi merupakan pantulan dari sinar Matahari.
  • Fase Bulan adalah penampakan Bulan yang dapat kita amati di Bumi.
  • Fase Bulan selalu berubah setiap waktunya, akan tetapi bentuk Bulan tetap yaitu berbentuk bola.
  • Secara umum fase Bulan dapat diklasifikasikan menjadi 5 jenis yaitu, Bulan baru, Bulan sabit, Bulan separuh, gibbous, dan Bulan purnama.
  • Fase Bulan baru banyak digunakan sebagai penunjuk waktu beribadah bagi umat beragama, khususnya umat Islam.
  • Umat Islam menentukan waktu mulainya berpuasa Ramadhan dan berlebaran di bulan Syawal dengan kemunculan Bulan baru yang sangat tipis/Hilal.
  • Kalender Hijriyah yang digunakan umat Islam merupakan salah satu sistem kalender yang berlandaskan gerak Bulan.
  • Bulan memiliki periode rotasi sama dengan periode revolusinya.
  • Bukti bahwa Bulan memiliki periode rotasi sama dengan periode revolusinya adalah wajah Bulan yang ditandai dengan kawah-kawah yang ada di Bulan selalu tampak sama jika diamati di belahan Bumi manapun.