Materi

ROTASI REVOLUSI BUMI

Salah satu cara mengetahui bahwa Bumi melakukan gerak rotasi dan revolusi adalah dari tanda-tanda yang muncul dan juga dapat kita rasakan. Apa sajakah tanda-tanda tersebut? Jawabannya akan kamu temukan dengan membaca bab ini hingga selesai.

Fenomena gerak benda langit khususnya gerak Bumi yang merupakan planet tempat kita tinggal memiliki daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang mempelajarinya. Dengannya kita bisa lebih memahami peristiwa-peristiwa alam yang terjadi di sekitar kita. Sungguh kita akan takjub dengan keindahan serta keteraturan dari jagat raya ini. Lebih jauh lagi, pemahaman yang baik mengenai keteraturan pergerakan benda langit dapat menambah iman dan rasa syukur kita kepada Sang pengatur jagat raya. Dialah satu-satunya dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sungguh tak terhitung nikmat yang diberikan Allah pada mahkluknya terutama manusia. Pada bab ini, kita akan membahas peristiwa-peristiwa alam yang muncul akibat dari pergerakan Bumi, baik itu gerak rotasi Bumi ataupun gerak revolusi Bumi. Semoga setelah membaca bab ini, kita menjadi lebih paham dengan peristiwa-peristiwa alam di sekeliling kita serta menjadikan kita lebih bersyukur atas segala nikmat dari Allah Ta’ala. Berikut adalah uraian dari beberapa peristiwa yang muncul akibat pergerakan Bumi.

Dampak dari gerak rotasi Bumi adalah pergantian siang dan malam, gerak semu harian benda langit, adanya pembagian zona waktu, dan perbedaan percepatan gravitasi di permukaan Bumi. Berikut adalah uraian dari setiap dampak gerak rotasi Bumi.

1. Pergantian Siang dan Malam

Pergantian siang dan malam merupakan peristiwa yang terjadi akibat gerak rotasi Bumi atau gerak Bumi memutari porosnya. Apa hubungan gerak rotasi Bumi dengan adanya peristiwa siang dan malam? Apakah jika Bumi tidak berotasi, pergantian siang dan malam akan tetap terjadi? Untuk menjawab dua pertanyaan tersebut, coba kamu perhatikan bola basket yang disinari oleh lampu senter seperti pada Gambar 5.1 berikut.

Berdasarkan Gambar 5.1 di atas, apakah lampu senter mampu menyinari seluruh bagian bola basket dalam waktu bersamaan? Tentu jawabannya tidak, ketika lampu senter dinyalakan, maka hanya separuh bagian bola basket saja yang mendapatkan sinar dari lampu senter. Adapun separuh bagian bola basket yang lain tidak mendapatkan sinar dari lampu senter. Sekarang coba kamu pikirkan, apa yang terjadi jika bola basket berputar melakukan gerak rotasi layaknya Bumi? Untuk menjawab pertanyaan ini, ikutilah kegiatan Aku Bisa 5.1 berikut.

Berdasarkan percobaan yang kamu lakukan, ketika bola basket berputar, maka seluruh bagian bola basket akan mendapat sinar dari lampu senter secara silih berganti. Ketika daerah X mendapat sinar dari lampu senter maka daerah X akan menjadi terang, pada saat bersamaan daerah Y tampak gelap karena tidak mendapatkan sinar dari lampu senter. Sebaliknya ketika daerah Y mendapat sinar dari lampu senter maka daerah Y yang menjadi terang, dan pada saat bersamaan daerah X tampak gelap karena tidak mendapatkan sinar dari lampu senter. Begitu seterusnya, daerah X dan Y akan mengalami pergantian gelap dan terang secara terus-menerus. Akan tetapi jika bola basket tidak kamu putar, maka tidak akan ada pergantian gelap dan terang di daerah X dan Y. Daerah X akan terus-menerus terang dan daerah Y akan terus-menerus gelap atau sebaliknya. Hal serupa juga berlaku pada Bumi. Pergantian siang dan malam terjadi karena Bumi berputar/melakukan gerak rotasi sehingga seluruh bagian Bumi akan silih berganti mendapatkan sinar Matahari. Jika Bumi diam dan tidak berotasi maka tidak akan ada pergantian siang dan malam, yang artinya sebagian daerah di Bumi akan terus-menerus siang dan sebagian daerah lainnya akan terus-menerus malam.

Gambar 5.2 menunjukkan bahwa peristiwa pergantian siang dan malam terjadi akibat dari rotasi Bumi pada sumbu rotasinya. Sumbu rotasi Bumi ditunjukkan oleh garis hitam yang sebenarnya hanya merupakan garis khayal (tidak nyata). Rotasi yang dilakukan oleh Bumi menyebabkan seluruh permukaan Bumi menerima pancaran sinar Matahari secara bergantian. Perhatikan kembali Gambar 5.2 di atas dan coba kamu bayangkan jika Bumi diam dan tidak berotasi, tentu permukaan Bumi yang menghadap Matahari akan terus-menerus mengalami siang, sedangkan permukaan Bumi yang membelakangi Matahari akan terus-menerus mengalami malam. Mungkin selama ini kamu jarang memikirkan hikmah dari adanya pergantian siang dan malam, namun jika kamu renungkan, ternyata peristiwa pergantian siang dan malam adalah suatu nikmat yang sangat besar terutama bagi manusia. Dengan adanya pergantian siang dan malam, seluruh daerah di Bumi akan silih berganti mendapatkan sinar Matahari sehingga tercapai keseimbangan alam. Tumbuh-tumbuhan serta hewan di setiap daerah di Bumi dapat bertahan hidup dengan keseimbangan alam tersebut. Tengoklah pohon-pohon di sekelilingmu yang menghasilkan oksigen sehingga kamu dapat bernafas. Pancaran sinar Matahari yang cukup menjadikan pohon-pohon dapat tumbuh sehingga bermanfaat bagi manusia. Coba tanyakan pada dirimu, Siapakah yang mempergantikan siang dan malam sehingga jagat raya ini menjadi seimbang? Ketahuilah bahwa seorang raja atau presiden atau bahkan orang yang paling mulia di dunia ini, tidak akan pernah mampu mempergantikan siang dan malam. Hanya Dia yang Maha Esa yang mampu mengatur jagat raya ini dan mempergantikan siang dan malam.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan Bumi dan pergantian siang dan malam ada (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.” (QS. Ali ‘Imran: 190)

2. Gerak Semu Harian Matahari

Kamu tentu pernah menyaksikan fenomena terbit dan terbenamnya Matahari. Di setiap tempat, Matahari selalu terbit dari timur dan terbenam di barat kecuali di daerah Kutub. Gambar 5.3 menunjukkan lintasan gerak Matahari yang teramati di daerah Khatulistiwa dan selain daerah Khatulistiwa. Gerak Matahari dari timur ke barat yang kamu amati di langit setiap harinya disebut gerak semu harian Matahari. Mengapa disebut gerak semu? Gerak semu adalah gerak tidak nyata. Menurut model pergerakan benda langit yaitu model Heliosentris, Matahari tidak bergerak mengelilingi Bumi, akan tetapi Bumi melakukan gerak rotasi sehingga Matahari tampak bergerak mengelilingi Bumi. Bumi berotasi dari barat ke timur. Akibatnya, benda-benda langit seperti Matahari dan Bulan akan tampak bergerak mengelilingi Bumi dari timur ke barat. Hal ini pernah kamu buktikan ketika melakukan kegiatan Jadi Ilmuan 1.1 di bab sebelumnya.

Perubahan posisi Matahari yang tampak di langit dijadikan sebagai penunjuk waktu. Contohnya adalah waktu ibadah shalat wajib bagi umat Islam yang berpatokan pada posisi Matahari di langit, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

“Waktu Zuhur jika Matahari telah tergelincir sampai bayangan seseorang sama dengan tingginya selama belum masuk waktu Asar. Waktu Asar tetap ada selama Matahari belum berwarna kuning. Waktu shalat Magrib selama mega merah (syafaq) belum hilang. Waktu shalat Isya hingga tengah malam. (Waktu) shalat Subuh mulai terbitnya fajar hingga terbit Matahari. Apabila Matahari telah terbit, maka berhentilah dari shalat, karena Matahari itu terbit di antara dua tanduk syaithan” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 612]

Cermatilah Gambar 5.3 beserta penjelasannya untuk menambah wawasanmu mengenai gerak semu harian Matahari yang ternyata berbeda-beda di setiap daerah. Kemiringan poros Bumi mengelilingi Matahari merupakan faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut. Pembahasan yang lebih dalam mengenai kemiringan poros Bumi akan kamu temukan pada bahasan peristiwa-peristiwa alam yang muncul akibat gerak revolusi Bumi.

3. Pembagian Zona Waktu

Hikmah yang agung dari gerak rotasi Bumi adalah fenomena silih bergantinya siang dan malam. Selama Bumi masih berputar maka waktu pasti akan terus berganti. Kamu tidak mungkin terus bekerja dalam siang seperti halnya kamu juga tidak mungkin terus beristirahat dalam malam. Allah telah menciptakan segala sesuatu secara berpasangan, ada siang maka ada juga malam sehingga terciptalah keseimbangan alam. Gerak rotasi Bumi, menyebabkan perbedaan zona waktu di setiap daerah di permukaan Bumi. Ketika kamu tengah berada pada waktu siang hari, maka pada waktu bersamaan orang di belahan Bumi yang lain tengah berada pada waktu malam hari, begitupun sebaliknya jika kamu tengah berada pada waktu malam hari, maka orang di belahan Bumi yang lain tengah berada pada waktu siang hari.

Gerak rotasi Bumi menyebabkan waktu terus berubah. Pagi, siang, dan malam silih berganti mengisi hari-hari. Dua daerah yang memiliki posisi bujur berbeda akan merasakan zona waktu yang berbeda pula. Misalkan di Kota Bandung menunjukkan pukul 18.00 malam hari, pada saat yang bersamaan Kota Paris di Prancis masih menunjukkan pukul 12.00 siang hari. Pada pembahasan selanjutnya kamu akan mengetahui cara menentukan perbedaan zona waktu setiap daerah di permukaan Bumi. Perbedaan waktu antara Kota Bandung dan Kota Paris tersebut terjadi karena posisi bujur dari kedua daerah berbeda, sehingga posisi Matahari yang teramati di tiap daerah juga berbeda. Lalu apakah yang dimaksud posisi bujur? Bagaimana cara menentukan posisi bujur dari suatu daerah? Untuk mengetahui jawabannya teruskanlah membaca materi ini hingga selesai dengan saksama.

a. Cara Menentukan Posisi Bujur Suatu Daerah

Gerak rotasi Bumi menyebabkan terjadinya perbedaan zona waktu di setiap daerah yang memiliki posisi bujur berbeda. Tahukah kamu apa sebenarnya yang dimaksud dengan posisi bujur? Untuk dapat mengetahuinya, coba perhatikan Gambar 5.4 berikut.

Garis khayal setengah lingkaran yang menghubungkan Kutub utara Bumi dengan Kutub selatan Bumi disebut garis bujur. Pada tahun 1884 diselenggarakan konverensi Internasional Meridian yang membahas mengenai pembagian zona waktu. Konverensi tersebut menentapkan garis bujur yang melewati Kota Greenwich di Inggris sebagai garis bujur  , yang artinya Kota Greenwich dan setiap daerah yang dilalui garis bujur tersebut berada pada posisi bujur . Gambar 5.5 menunjukkan garis bujur  yang melewati Kota Greenwich.

Jika kamu perhatikan garis bujur 0-derajad yang dikenal juga dengan nama garis Meridian, maka akan terlihat bahwa garis tersebut membelah Bumi menjadi dua bagian yaitu bagian timur dan barat. Garis-garis bujur yang bernilai positif adalah garis-garis bujur yang terletak di sebelah timur garis bujur 0-derajad, sedangkan garis-garis bujur yang bernilai negatif adalah garis-garis bujur yang terletak di sebelah barat garis bujur 0-derajad. Tanda positif atau negatif pada garis bujur hanya digunakan untuk menunjukkan letak garis bujur tersebut terhadap garis bujur 0-derajad, apakah terletak di sebelah barat atau di sebelah timur. Sebagai contoh, Kota X pada Gambar 5.6 terletak di BT (Bujur Timur), yang artinya Kota X terletak di sebelah timur Kota Greenwich dan garis bujur yang melalui Kota X membentuk sudut sebesar  dengan garis bujur 0-derajad yang melewati Kota Greenwich.

Jika ada dua daerah yang dilalui oleh garis bujur yang sama, maka kedua daerah tersebut dikatakan memiliki posisi bujur yang sama. Untuk menguji pemahamanmu mengenai posisi bujur suatu daearah, coba perhatikan posisi bujur dari Kota X, Y, dan Z pada Gambar 5.7. Bagaimanakah posisi bujur dari Kota X dan Kota Y? Ya, kedua kota memiliki posisi bujur yang sama yaitu  BT (Bujur Timur). Mengapa demikian? Kota X dan Kota Y memiliki posisi bujur yang sama dikarenakan kedua kota dilalui oleh garis bujur yang sama yaitu garis bujur yang membentuk sudut dengan garis bujur 0-derajad. Lalu bagaimanakah posisi bujur dari Kota X dan Kota Z? Kedua kota memiliki posisi bujur yang berbeda, hal ini sangat jelas terlihat karena kedua kota dilalui oleh garis bujur yang berbeda. Kota X dilalui oleh garis bujur sedangkan Kota Z dilalui oleh garis bujur . Demikianlah penjelasan mengenai cara menentukan posisi bujur suatu daerah. Setelah memahami penjelasan ini, kamu diharapkan dapat menjelaskan posisi bujur dari setiap daerah yang ada di permukaan Bumi. Misalkan kamu mendengar bahwa ada sebuah Kota yang terletak BB (Bujur Barat), maka dengan pengetahuanmu mengenai posisi bujur suatu daerah kamu dapat menjelaskan secara rinci bahwa Kota tersebut terletak di sebelah barat Kota Greenwich dan garis bujur yang melewati Kota tersebut membentuk sudut sebesar dengan garis Meridian yang melewati Kota Greenwich.b. Cara Menentukan Zona Waktu

Ketika kamu mempelajari periode rotasi Bumi pada bab sebelumnya, ada satu kegiatan sederhana yang dapat kamu lakukan untuk menghitung periode rotasi Bumi. Masih ingatkah kamu dengan kegiatan yang dimaksud? Ya, kamu dapat menghitung periode rotasi Bumi dengan cara mengamati Matahari ketika posisinya tepat berada di atas kepalamu, kemudian setelah itu Matahari akan terlihat bergerak mengitari langit hingga terbenam di barat dan terbit lagi dari arah timur. Kamu hanya perlu menunggu saat Matahari kembali tepat berada di atas kepalamu. Selang waktu yang kamu habiskan untuk menunggu Matahari kembali tepat berada di atas kepalamu adalah 24 jam sehingga kamu dapat menyimpulkan bahwa periode rotasi Bumi adalah 24 jam. Saat Matahari kembali tepat berada di atas kepalamu, hal tersebut menunjukkan bahwa Bumi telah melakukan satu putaran penuh sebesar . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk melakukan 1 putaran sebesarBumi membutuhkan waktu 24 jam. Perhatikanlah Gambar 5.8 berikut.

Gambar 5.8 (a) menunjukkan saat kamu akan mulai menghitung periode rotasi Bumi yaitu ketika posisi Matahari tepat berada di atas kepalamu. Setelah itu Matahari akan tampak bergerak mengitari Bumi dari timur ke barat dikarenakan Bumi berotasi dari barat ke timur. Gambar 5.8 (d) menunjukkan saat dimana Matahari kembali tepat berada di atas kepalamu yang artinya Bumi telah melakukan satu putaran penuh sebesardalam waktu 24 jam. Jika kita sederhanakan, maka dalam waktu 1 jam Bumi telah berputar sejauh . Perhatikanlah Tabel 5.1 berikut.

Berdasarkan penyederhanaan pada Tabel 5.1 di atas, para ilmuwan membagi seluruh daerah di permukaan Bumi ke dalam 24 zona waktu. Setiap perbedaan posisi bujur , maka terjadi perbedaan zona waktu dengan selisih waktu 1 jam. Kota Greenwich di Inggris yang dilalui garis Meridian dijadikan sebagai acuan waktu Internasional. Greenwich Mean Time atau GMT adalah acuan waktu Internasional yang mengacu pada waktu di Kota Greenwich.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Kota Greenwich teretak di bujur 0-derajad dan dijadikan sebagai acuan waktu Internasional. Jika Kota A terletak BT (Bujur Timur), maka Kota A memiiki zona waktu GMT+1. Apakah yang dimaksud GMT+1? Maksudnya adalah waktu di Kota A lebih cepat 1 jam di bandingkan dengan waktu di Kota Greenwich. Misalkan Kota Greenwich menunjukkan pukul 18.00 malam, itu berarti di Kota A telah menunjukkan pukul 19.00 malam. Contoh lain, jika Kota M terletak BB (Bujur Barat), itu berarti Kota M memiliki zona waktu GMT-2 atau waktu di Kota M lebih lambat 2 jam dibandingkan dengan waktu di Kota Greenwich. Misalkan Kota Greenwich menunjukkan pukul 18.00 malam, maka Kota M masih menunjukkan pukul 16.00 malam. Intinya adalah jika suatu daerah terletak di sebelah timur Kota Greenwich, maka daerah tersebut memiliki zona waktu lebih cepat dari Kota Greenwich, sebaliknya jika suatu daerah terletak di sebelah barat Kota Greenwich, maka daerah tersebut memiliki zona waktu lebih lambat dari Kota Greenwich. Perhatikanlah Tabel 5.2 berikut.

Sebagai Negara kepulauan yang terbentang dari timur dan barat, Negara Indonesia sangat dipengaruhi dengan adanya pembagian zona waktu. Indonesia terbentang mulai dari BT hingga BT . Jika kita hitung, maka wilayah Indonesia terbentang sejauh (nilai 46 diperoleh dari 141 – 95 = 46-derajad). Ingatlah bahwa setiap perbedaan posisi bujur sebesar 15-derajad, maka akan terjadi perbedaan zona waktu dengan selisih waktu 1 jam. Karena Indonesia terbentang sejauh , maka Indonesia terbagi ke dalam 3 zona waktu yang dikenal sebagai Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia Timur (WIT). Perhatikanlah Gambar 5.9 berikut ini.

Gambar 5.9 menunjukkan peta Indonesia berdasarkan pembagian zona waktu. Daerah yang berwarna merah termasuk kedalam zona waktu Indonesia bagian barat (WIB), daerah yang berwarna biru termasuk zona waktu Indonesia bagian tengah (WITA), dan daerah yang berwarna kuning termasuk zona waktu Indonesia bagian timur (WIT). Jika mengacu pada acuan waktu Internasional seperti ditunjukkan Tabel 5.2, maka wilayah Indonesia berada pada waktu GMT+7 untuk WIB, GMT+8 untuk WITA, dan GMT+9 untuk WIT. Agar kamu lebih memahami pembagian zona waktu di Indonesia, ikutilah kegiatan Aku Bisa 5.2 dan Aku Bisa 5.3 berikut ini.

Jawaban yang paling tepat untuk kegiatan Aku Bisa 5.3 adalah kamu akan tiba di Bandung pada pukul 07.00 WIB. Sudah benarkah jawabanmu? Jika kamu berhasil menjawab dengan benar, itu menunjukkan kamu telah memahami konsep pembagian zona waktu khususnya di wilayah Indonesia. Namun jika jawabanmu masih belum tepat, sebaiknya kamu ulangi lagi membaca penjelasan materi ini dengan lebih saksama.

 d. Anomali Pembagian Zona Waktu

Pembagian zona waktu menjadi 24 bagian berdasarkan posisi bujur dari suatu daerah ternyata tidak “ditaati” oleh semua Negara. Sebut saja Cina yang memilih untuk membuat aturan sendiri terkait zona waktu. Negeri Tirai Bambu dikenal sebagai salah satu negara dengan wilayah terluas di dunia. Negara ini memiliki lebar hingga 5.200 kilometer yang terbentang mulai dari BT hingga BT. Dengan kondisi tersebut, Cina seharusnya memiliki lima zona waktu berbeda.

Wilayah yang sangat luas ternyata tidak menjadi penghalang bagi pemerintah Cina untuk menetapkan aturan khusus terkait zona waktu. Hingga saat ini, Cina hanya menerapkan satu zona waktu nasional. Sejak Perang Saudara di Cina pada tahun 1949, negara ini menetapkan satu zona waktu nasional untuk semua daerah. Alasan penggunaan satu zona waktu ini adalah kepentingan politik negara. Dengan perbedaan waktu yang sebenarnya sangat jauh, maka dalam waktu yang bersamaan, pemandangan di setiap daerah akan berbeda. Misalnya, ketika penduduk Beijing sudah menikmati pemandangan Matahari terbit, penduduk Xinjiang harus sabar menunggu terbitnya Matahari sekitar dua jam kemudian.

4. Perbedaan Percepatan Gravitasi di Permukaan Bumi

Pernahkah kamu bermain kereta putar seperti ditunjukkan Gambar 5.10 di samping? Jika kereta berputar dengan cepat, kamu pasti akan merasa terdorong ke luar. Hal serupa juga terjadi pada Bumi. Ketika Bumi berotasi, maka permukaan Bumi di sekitar daerah Khatulistiwa akan merasa terdorong ke luar. Akibatnya bagian permukaan Bumi di sekitar daerah Khatulistiwa akan mengembang menjauhi inti Bumi. Ketika permukaan Bumi di bagian khatulistiwa mengembang, maka secara serentak bagian permukaan Bumi di Kutub akan memampat mendekati inti Bumi. Mengembangnya permukaan Bumi di bagian khatulistiwa dan memampatnya permukaan Bumi di bagian Kutub menyebabkan bentuk Bumi tidak persis seperti bola. Sebuah bola memiliki jari-jari yang sama panjang di semua sisinya, sedangkan Bumi memiliki panjang jari-jari yang berbeda. Jari-jari Bumi di bagian khatulistiwa lebih besar daripada jari-jari Bumi di bagian Kutub.

Gambar 5.11 (b) menunjukkan dampak dari gerak rotasi Bumi. Kamu dapat melihat bahwa bagian Kutub Bumi memampat dan bagian Khatulistiwa Bumi mengembang. Agar kamu lebih memahami alasan mengapa gerak rotasi Bumi dapat menyebabkan bagian khatulistiwa mengembang dan bagian kutub memampat, lakukanlah kegiatan Aku Bisa 5.4 berikut.

Bagaimana kondisi air yang kamu amati ketika ember kamu putar? Ya, ternyata air di dalam ember tidak tumpah sama sekali. Mungkin fenomena ini wajar ketika ember berada di bawah dan bagian ember yang terbuka menghadap ke atas, namun sangat mengherankan ketika ember berada di atas dan bagian ember yang terbuka menghadap ke bawah air tetap tidak tumpah. Mengapa bisa demikian? Ketika ember diputar, maka air di dalam ember akan merasakan dorongan ke luar (ke arah bagian bawah ember/alas ember). Hal ini menyebabkan air tidak akan tumpah ketika ember berputar. Hal serupa juga di alami oleh Bumi kita. Ketika Bumi berotasi, permukaan Bumi bagian Khatulistiwa akan merasakan dorongan ke luar sehingga akan mengembang dan secara bersamaan bagian Kutub Bumi akan memampat. Jika Khatulistiwa mengembang dan Kutub memampat, maka jari-jari Bumi di daerah Khatulistiwa akan lebih besar dari jari-jari Bumi di daerah Kutub.

Gambar 5.13 menunjukkan perbandingan panjang jari-jari Bumi di Khatulistiwa dengan jari-jari Bumi di Kutub. Jika jari-jari Bumi di Khatulistiwa adalah r1 dan jari-jari Bumi di Kutub r2 adalah , maka perbandingannya adalah r1>r2 ( r1 lebih besar dari r2). Jari-jari Bumi di Khatulistiwa memiliki panjang sekitar 6.378 km sedangkan jari-jari Bumi di Kutub memiliki panjang 6.356 km. Perbedaan panjang jari-jari Bumi di Khatulistiwa dengan di Kutub menyebabkan perbedaan nilai percepatan gravitasi pada dua daerah tersebut. Seperti yang kita ketahui bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi besar percepatan gravitasi yang dialami suatu benda adalah jarak benda tersebut dengan inti Bumi. Perhatikanlah Gambar 5.14 berikut ini.

Gambar 5.14 menunjukkan dua buah benda yang terpisah dengan jarak tertentu. Hukum gravitasi Newton telah menjelaskan kepada kita bahwa akan muncul suatu gaya tarik menarik diantara dua buah benda yang saling berinteraksi. Gaya tarik menarik inilah yang dikenal dengan nama gaya gravitasi. Besar gaya gravitasi dipengaruhi oleh massa dan jarak dari kedua benda yang berinteraksi. Semakin besar massa benda yang berinteraksi, maka gaya gravitasi yang muncul akan semakin besar, begitupun sebaliknya. Adapun terkait jarak benda, maka semakin dekat jarak dua benda yang saling berinteraksi, besar gaya gravitasi yang muncul akan semakin besar, begitupun sebaliknya. Secara matematis, nilai dari gaya gravitasi dapat kita hitung mengunakan persamaan berikut.

Berdasarkan Persamaan gravitasi Newton, coba kamu perhatikan kembali Gambar 5.13, kemudian kamu analisis besar gaya gravitasi di Khatulistiwa dan di Kutub! Jika dua benda bermassa sama diletakkan di daerah Khatulistiwa dan Kutub seperti ditunjukkan Gambar 5.15, benda yang berada di daerah Kutub (Benda A) akan mengalami gaya gravitasi lebih besar dibandingkan benda yang berada di daerah Khatulistiwa (Benda B). Hal tersebut dikarenakan jarak benda A terhadap inti Bumi lebih kecil dibandingkan jarak benda B terhadap inti Bumi. Gaya gravitasi yang kecil akan menghasilkan percepatan gravitasi yang kecil pula, oleh karena itu percepatan gravitasi Bumi di daerah Khatulistiwa memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan dengan percepatan gravitasi Bumi di daerah Kutub.

Gambar 5.15 menunjukkan dua buah benda yang identik (A dan B) yang memiliki jarak yang berbeda terhadap inti Bumi. Benda A memiliki jarak yang lebih dekat terhadap inti Bumi dibandingkan dengan benda B. Hal tersebut karena benda A terletak di daerah Kutub yang memampat akibat gerak rotasi Bumi. Karena jaraknya yang dekat dengan inti Bumi, maka benda A akan mendapatkan gaya gravitasi dan percepatan gravitasi yang lebih besar dibanding dengan benda B.

Setelah kamu membaca peristiwa-peristiwa alam yang muncul akibat gerak rotasi Bumi, buatlah rangkuman dengan tema dampak rotasii Bumi kemudian ikutilah kegiatan Ayo Berdiskusi 5.1 berikut ini.

 

Sama halnya dengan gerak rotasi Bumi, gerak revolusi Bumi juga memunculkan berbagai fenomena alam yang mudah untuk kita rasakan. Gerak Bumi mengelilingi Matahari yang kita kenal sebagai gerak revolusi Bumi, banyak memunculkan fenomena-fenomena tahunan seperti gerak semu tahunan Matahari, perbedaan lama waktu siang dan malam, serta adanya keragaman musim. Ketiga fenomena tahunan yang disebutkan pada intinya disebabkan oleh dua faktor yaitu gerak revolusi Bumi dan kemiringan poros Bumi mengelilingi Matahari. Untuk dapat memahami ketiga fenomena tahunan Matahari tersebut, terlebih dahulu pahamilah konsep garis lintang dan konsep kemiringan poros Bumi, karena kedua konsep ini akan memudahkanmu dalam memahami fenomena-fenomena tahunan Matahari.

Apa itu garis lintang? Coba kamu perhatikan Gambar 5.16 berikut ini. Gambar 5.16 menunjukkan model Bumi dengan tambahan garis khayal untuk memudahkan kamu mengidentifikasi garis bujur dan juga garis lintang. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa garis yang menghubungkan Kutub utara dan Kutub selatan disebut garis bujur. Sekarang coba kamu perhatikan garis putus-putus yang membagi Bumi menjadi dua bagian sama besar yaitu bagian Bumi utara dan selatan, garis ini disebut garis lintang 0-derajad. Garis lintang 0-derajad dikenal juga dengan nama garis Khatulistiwa. Perhatikanlah bahwa setiap garis yang sejajar dengan garis Khatulistiwa adalah termasuk garis lintang. Garis-garis lintang yang bernilai positif adalah garis-garis lintang yang terletak di sebelah utara garis Khatulistiwa, sedangkan garis-garis lintang yang bernilai negatif adalah garis-garis lintang yang terletak di sebelah selatan garis Khatulistiwa. Tanda positif atau negatif pada garis lintang hanya digunakan untuk menunjukkan letak garis lintang tersebut terhadap garis Khatulistiwa, apakah terletak di sebelah utara atau di sebelah selatan garis Khatulistiwa.

Selanjutnya mengenai kemiringan poros Bumi? Ya, Bumi mengelilingi Matahari memang dalam keadaan poros yang miring atau tidak tegak. Perhatikanlah ilustrasi yang ditunjukkan Gambar 5.17. Garis putus-putus horizontal merupakan orbit/lintasan Bumi mengelilingi Matahari, sedangkan garis putus-putus vertikal adalah garis khayal yang tegak lurus dengan orbit Bumi. Gambar 5.17 menunjukkan bahwa poros Bumi tidaklah tegak lurus terhadap orbit Bumi, akan tetapi membentuk sudut sebesar terhadap garis yang tegak lurus dengan orbit Bumi.

Kemiringan poros Bumi dalam mengelilingi Matahari dapat dikatakan sebagai faktor utama dibalik munculnya fenomena-fenomena tahunan Matahari. Poros Bumi yang miring menyebabkan fokus sinar Matahari yang menyinari Bumi selalu berubah-ubah sepanjang tahun. Ada saat-saat dimana sinar Matahari lebih banyak tertuju belahan Bumi utara, namun ada juga saat-saat dimana sinar Matahari lebih banyak tertuju ke belahan Bumi selatan. Gambar 5.18 mengilustrasikan perbedaan fokus sinar Matahari yang menyinari Bumi sepanjang tahun.

Gambar 5.18 menunjukkan empat kondisi perbedaan fokus sinar Matahari menyinari Bumi yang diakibatkan kemiringan poros Bumi terhadap orbit revolusi Bumi. Pada Bulan Maret dan September, Matahari fokus menyinari daearah Khatulistiwa Bumi. Pada Bulan Juni, sinar Matahari lebih banyak menyinari bagian utara Bumi (N), bahkan bagian Bumi paling selatan tidak mendapatkan pancaran sinar Matahari. Hal sebaliknya terjadi pada Bulan Desember dimana sinar Matahari lebih banyak menyinari bagian selatan Bumi (S) dan bagian Bumi paling utara tidak mendapatkan pancaran sinar Matahari. Sekarang coba kamu bayangkan apa yang terjadi jika poros Bumi tidak miring akan tetapi tegak lurus dengan orbit revolusi Bumi. Ya, jika hal tersebut terjadi, tentu saja sinar Matahari akan selalu fokus menyinari daerah Khatulistiwa sepanjang tahun tanpa pernah fokus menyinari belahan utara ataupun belahan selatan Bumi.

1. Gerak Semu Tahunan Matahari

Jika gerak rotasi Bumi memunculkan fenomena gerak semu harian Matahari, maka gerak revolusi Bumi memunculkan fenomena gerak semu tahunan Matahari. Gerak semu Matahari adalah fenomena terlihatnya Matahari bergerak yang sebenarnya diakibatkan oleh gerakan Bumi bukan gerakan Matahari itu sendiri. Misalkan pada fenomena gerak semu harian Matahari, Matahari terlihat bergerak dari timur ke barat. Fenomena tersebut bukan diakibatkan Matahari benar-benar bergerak dari timur ke barat, akan tetapi diakibatkan Bumi yang berputar dari barat ke timur sehingga benda-benda langit termasuk Matahari akan terlihat bergerak dari timur ke barat. Tahukah kamu keunikan dari peristiwa terbit dan terbenamnya Matahari jika diamati sepanjang tahun? Mungkin masyarakat umum hanya tahu bahwa Matahari terbit di timur dan terbenam di barat. Namun tahukah kamu bahwa terkadang Matahari tidak persis terbit di timur dan tidak persis tenggelam di barat. Dalam rentang waktu satu tahun, ada saat-saat dimana Matahari terbit dan terbenam sedikit bergeser ke arah utara dan selatan. Fenomena bergesernya posisi terbit dan terbenamnya Matahari menuju utara dan selatan dikenal sebagai fenomena gerak semu tahunan Matahari. Kemiringan poros Bumi saat Bumi mengelilingi Matahari merupakan faktor yang menyebabkan posisi terbit dan terbenam Matahari terkadang bergeser ke utara atau selatan.

Pada rentang Bulan Maret hingga Bulan Juni, posisi terbit dan terbenamnya Matahari akan teramati bergeser ke arah utara dengan puncak pergeseran terjadi sekitar tanggal 21 Juni. Pada tanggal 21 Juni Matahari tengah fokus menyinari bagian utara Bumi tepatnya daerah yang terletak  LU (Lintang Utara) sehingga pengamat yang berada disekitar daerah Khatulistiwa akan melihat Matahari tampak bergeser ke arah utara. Gambar 5.19 menunjukkan posisi terbit dan terbenamnya Matahari yang bergeser ke arah utara.

Gambar 5.19 (a) menunjukkan posisi terbit Matahari yang tidak tepat dari arah timur melainkan bergeser ke arah utara. Gambar 5.19 (b) menunjukkan posisi terbenam Matahari yang tidak tepat di barat melainkan bergeser ke arah utara. Setelah fokus menyinari bagian Bumi utara, pada rentang Bulan Juni hingga Bulan September fokus sinar Matahari kembali bergeser ke Khatulistiwa. Puncak pergeseran Matahari diperkirakan terjadi pada tanggal 23 September yaitu saat Matahari benar-benar fokus menyinari daerah Khatulistiwa atau lintang 0-derajad. Ketika fokus sinar Matahari tertuju ke daerah Khatulistiwa, maka bagi pengamat di Khatulistiwa Matahari akan tampak terbit tepat dari arah timur dan terbenam tepat di barat. Gambar 5.20 berikut ini mengilustrasikan posisi terbit Matahari yang kembali tepat dari timur dan posisi terbenam Matahari yang kembali tepat di barat.

Pada rentang Bulan September hingga Bulan Desember, fokus Matahari bergerak menjauhi daerah Khatulistiwa dan beralih fokus menyinari daerah selatan Bumi tepatnya di  LS (Lintang Selatan). Puncak pergeseran fokus sinar Matahari menuju bagian selatan Bumi terjadi sekitar tanggal 21 Desember, akibatnya posisi terbit dan terbenamnya Matahari akan teramati bergeser ke arah selatan. Gambar 5.21 mengilustrasikan posisi terbit dan terbenamnya Matahari yang tidak tepat dari timur dan barat melainkan bergeser ke arah selatan.

Fase terakhir dari gerak semu tahunan Matahari terjadi pada rentang Bulan Desember hingga Bulan Maret yaitu ketika fokus sinar Matahari kembali bergerak menuju daearah Khatulistiwa. Tanggal 21 Desember diperkiraan adalah saat sinar Matahari benar-benar fokus menyinari daerah Khatulistiwa atau lintang 0-derajad, sehingga pada waktu tersebut Matahari akan tampak kembali terbit tepat di timur dan tenggelam tepat di barat. Gambar 5.22 mengilustrasikan Matahari yang kembali terbit tepat di timur dan terbenam tepat di barat.

Coba kamu perhatikan kembali posisi terbit dan terbenamnya Matahari sepanjang tahun seperti yang diilustrasikan gambar-gambar di atas. Jika dicermati dengan lebih teliti, kamu akan dapatkan bahwa pergeseran fokus sinar Matahari sebenarnya membentuk sebuah siklus yang sangat teratur. Gambar 5.23 menunjukkan siklus pergeseran fokus sinar Matahari sepanjang tahun.

Gambar 5.23 dapat dikatakan sebagai ringkasan dari Gambar 5.18 hingga Gambar 5.21 yang telah dijelaskan sebelumnya. Sungguh indah penciptaan Allah Ta’ala yang menjadikan poros Bumi miring terhadap orbit Bumi sehingga sinar Matahari tersebar merata ke seluruh bagian Bumi. Pada bahasan selanjutnya kamu juga akan memahami bahwa kemiringan poros Bumi juga mengakibatkan fenomena keragaman musim dan perbedaan lama waktu siang dan malam.

2. Perbedaan Lama Waktu Siang dan Malam

Pernahkah kamu mendapati waktu terbit Matahari yang terkadang lebih cepat atau lebih lambat dari biasanya? Jika kamu pernah mengalami fenomena tersebut, itu berarti kamu telah merasakan salah satu fenomena tahunan Matahari yaitu perbedaan lama waktu siang dan malam.  Kemiringan poros Bumi mengelilingi Matahari menyebabkan perbedaan lama waktu siang dan malam. Ketika Matahari terbit lebih cepat maka hal tersebut menandakan waktu siang akan berlangsung lebih lama dari waktu malam. Sebaliknya ketika Matahari terbit “terlambat”, maka itu menandakan waktu malam berlangsung lebih lama dari waktu siang.

Perbedaan lama waktu siang dan malam hampir terjadi di setiap daerah di permukaan Bumi. Hanya ada satu daerah yang tidak merasakan perbedaan lama waktu siang dan malam yaitu daerah Khatulistiwa. Khusus untuk daerah yang dilalui garis Khatulistiwa seperti Kota Pontianak, Uganda, Kenya, dan Somalia, lama waktu siang dan malam akan selalu sama sepanjang tahun. Jika dalam satu hari ada 24 jam, maka bagi daearah Khatulistiwa siang akan berlangsung selama 12 jam dan malam pun juga berlangsung selama 12 jam sepanjang tahun. Perhatikanlah bahwa seluruh wilayah Indonesia kecuali Kota Pontianak akan merasakan perbedaan lama waktu siang dan malam. Semakin jauh letak suatu daerah dari garis Khatulistiwa, maka daerah tersebut akan merasakan perbedaan lama waktu siang dan malam yang semakin ekstrim.

a. Lama Waktu Siang Dan Malam Di Daerah Khatulistiwa

Daerah yang dilalui oleh garis Khatulistiwa dapat dikatakan sebagai daerah yang istimewa. Mengapa demikian? Salah satu bentuk keistimewaannya adalah tidak adanya perbedaan lama waktu siang dan malam sepanjang tahun. Dengan demikian, waktu siang dan waktu malam akan berlangsung sama panjang setiap hari sepanjang tahun. Perhatikanlah Gambar 5.24 berikut ini.

Gambar 5.24 menunjukkan perbedaan fokus sinar Matahari yang menyinari permukaan Bumi sepanjang tahun. Perhatikanlah garis Khatulistiwa Bumi yang ada pada setiap Gambar. Jika kamu perhatikan dengan teliti, maka kamu akan melihat bahwa garis Khatulistiwa terbagi menjadi wilayah gelap (malam) dan wilayah terang (siang). Hal yang unik adalah, panjang garis Khatulistiwa dibagian gelap selalu sama dengan panjang garis Khatulistiwa di bagian terang walaupun fokus sinar Matahari berbeda-beda. Hal ini menyebabkan daerah yang dilalui garis Khatulistiwa akan mengalami panjang waktu siang dan malam yang sama sepanjang tahun.

Gambar 5.25 menunjukkan diagram waktu siang dan malam untuk daerah yang dilalui garis Khatulistiwa. Dapat kamu lihat bahwa panjang waktu siang sepanjang tahun tidak pernah berubah yaitu berlangsung selama 12 jam, begitupun dengan waktu malam yang juga berlangsung selama 12 jam. Selanjutnya ikutilah kegiatan Aku Bisa 5.5 berikut ini.

b. Lama Waktu Siang Dan Malam Di Daerah LU (Lintang Utara)/LS (Lintang Selatan)

Jika daerah Khatulistiwa tidak mengalami perbedaan lama waktu siang dan malam, maka berbeda halnya dengan daerah selain Khatulistiwa. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa semakin jauh letak suatu daerah dari garis Khatulistiwa, baik semakin jauh ke arah utara ataupun selatan, daerah tersebut akan merasakan perbedaan lama waktu siang dan malam yang semakin ekstirm. Coba perhatikan Gambar 5.26 berikut ini.

Gambar 5.26 (a) menunjukkan pengamat tengah berada di daerah utara Bumi tepatnya di LU (Lintang Utara) ketika Matahari tengah fokus menyinari Bumi bagian utara. Coba kamu perhatikan panjang garis lintang yang berada di wilayah gelap Bumi dan yang berada di wilayah terang Bumi. Garis lintang yang berada di wilayah terang Bumi ternyata lebih panjang dibandingkan garis lintang yang berada di wilayah gelap Bumi. Hal ini menyebabkan pengamat akan merasakan waktu siang berlangsung lebih lama dibandingkan waktu malam. Gambar 5.26 (b) menunjukkan diagram waktu siang dan malam untuk daerah yang berada di LU (Lintang Utara). Kamu dapat melihat bahwa pada tanggal 21 Juni, waktu siang berlangsung lebih lama hingga mencapai 13,9 jam.

Agar pemahamanmu lebih dalam lagi, coba kamu pikirkan apa yang akan dialami pengamat yang berada di LU (Lintang Utara) jika fokus sinar Matahari berpindah menuju Bumi bagian selatan. Hal ini tentu sangat menarik untuk kamu cermati, untuk membantumu menemukan jawabannya perhatikanlah Gambar 5.27 berikut.

Gambar 5.27 (a) menunjukkan pengamat tengah berada di daerah utara Bumi tepatnya di LU (Lintang Utara) ketika Matahari tengah fokus menyinari Bumi bagian selatan. Dapatkah kamu menemukan perbedaan antara Gambar 5.27 (a) dengan Gambar 5.26 (a) yang sebelumnya telah dijelaskan. Ya, perbedaannya terletak pada panjang garis lintangyang berada di wilayah gelap Bumi dan yang berada di wilayah terang Bumi. Ketika Matahari fokus menyinari Bumi bagian selatan, garis lintangyang berada di wilayah terang Bumi ternyata lebih pendek dibandingkan garis lintang yang berada di wilayah gelap Bumi. Hal ini menyebabkan pengamat akan merasakan waktu siang berlangsung lebih singkat dibandingkan waktu malam. Gambar 5.27 (b) menunjukkan diagram waktu siang dan malam untuk daerah yang berada diLU (Lintang Utara). Kamu dapat melihat bahwa pada tanggal 21 Desember, waktu siang berlangsung lebih singkat yaitu hanya 10,1 jam, sedangkan waktu malam berlangsung selama 13,9 jam. Dengan demikian selisih lama waktu siang dan malam yang terjadi adalah 3,8 jam.

Selisih waktu =  waktu malam – waktu siang

Selisih waktu  =  13,9 jam – 10,1 jam = 3,8 jam

Semakin besar nilai lintang suatu daerah atau semakin jauh letak daerah dari garis Khatulistiwa, maka selisih lama waktu siang dan malam juga akan semakin besar. Agar kamu yakin dengan pernyataan tersebut, coba kamu cermati Gambar 5.28 berikut.

Gambar 5.28 (a) menunjukkan pengamat tengah berada di daerah utara Bumi tepatnya di LU (Lintang Utara) ketika Matahari tengah fokus menyinari Bumi bagian selatan. Panjang garis lintang yang berada di wilayah terang Bumi jauh lebih pendek dibandingkan garis lintangyang berada di wilayah gelap Bumi. Hal ini menyebabkan pengamat akan merasakan waktu siang berlangsung jauh lebih singkat dibandingkan waktu malam. Gambar 5.28 (b) menunjukkan diagram waktu siang dan malam untuk daerah yang berada di  LU (Lintang Utara). Kamu dapat melihat bahwa pada tanggal 21 Desember, waktu siang berlangsung lebih singkat yaitu hanya 8,6 jam, sedangkan waktu malam berlangsung selama 15,4 jam. Dengan demikian selisih lama waktu siang dan malam yang terjadi adalah 6,8 jam. Hal ini cukup untuk menjadi bukti bahwa semakin besar nilai lintang suatu daerah maka perbedaan lama waktu siang dan malam pada daerah tersebut juga akan semakin besar.

Selisih waktu =  waktu malam – waktu siang

Selisih waktu  =  15,4 jam – 8,6 jam = 6,8 jam

 c. Lama Waktu Siang Dan Malam Di Daerah Kutub

Kutub adalah daerah yang terletak di lintangsekaligus merupakan daerah yang letaknya paling jauh dengan garis Khatulistiwa. Bumi memiliki dua buah kutub yaitu Kutub utara yang terletak di LU (Lintang Utara) dan Kutub selatan yang terletak di LS (lintang Selatan). Dengan posisi yang dimilikinya, bagaimanakah fenomena siang dan malam terjadi di daerah Kutub? Perhatikanlah Gambar 5.29 berikut ini.

Gambar Kutub 5.29 menunjukkan pengamat tengah berada di daerah Kutub utara Bumi. Saat sinar Matahari fokus menyinari Bumi bagian utara, maka pengamat akan merasakan siang secara terus menerus selama 6 bulan. Sebaliknya jika sinar Matahari fokus menyinari Bumi bagian selatan, maka pengamat akan merasakan malam yang berlangsung terus-menerus selama 6 Bulan seperti ditunjukkan Gambar 5.30.

3. Keragaman Musim

Keragaman musim? Ya, musim memang memiliki beragam jenis. Misalnya saja di Indonesia kita mengenal 2 jenis musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Di daratan eropa bahkan mengenal jumlah musim yang lebih banyak lagi. Dalam waktu satu tahun, wilayah eropa mengalami 4 musim yang berbeda yaitu musim panas, musim dingin, musim semi dan musim gugur. Keragaman musim yang terjadi di berbagai belahan Bumi dapat dikelompokkan ke dalam 3 bagian berdasarkan banyaknya musim di setiap bagian. Gambar 5.31 menunjukkan pembagian permukaan Bumi berdasarkan keragaman musim.

Daerah yang diberi warna kuning adalah daerah yang memiliki dua jenis musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Daerah yang diberi warna biru adalah daearah dengan 4 musim yaitu musim panas, musim dingin, musim semi, dan musim gugur. Adapun daerah yang diberi warna merah adalah daerah tanpa musim.

a. Daerah 2 Musim

Indonesia adalah salah satu contoh wilayah yang hanya mengalami dua musim. Di Indonesia musim hujan biasanya terjadi mulai Bulan Oktober hingga Bulan Maret, sedangkan musim kemarau terjadi mulai Bulan April hingga Bulan September. Gambar 5.32 berikut ini menunjukkan pemetaan waktu terjadinya musim hujan dan kemarau di Indonesia.

Berdasarkan Gambar 5.32 di atas, musim hujan di Indonesia terjadi ketika Matahari lebih banyak menyinari Bumi bagian selatan, sedangkan musim kemarau terjadi ketika Matahari lebih banyak menyinari Bumi bagian utara. Mengapa bisa demikian? Saat sinar Matahari lebih fokus ke Bumi bagian selatan, maka Bumi bagian selatan akan memiliki tekanan udara lebih kecil dibandingkan Bumi bagian utara, akibatnya udara akan mengalir dari tempat bertekanan tinggi ke tempat bertekanan rendah. Udara yang mengalir dari Bumi bagian utara menuju Bumi bagian selatan ini disebut angin muson barat. Sebelum melewati wilayah Indonesia, angin muson barat akan melewati daerah samudra Hindia sehingga membawa banyak uap air. Uap air yang dibawa angin muson barat inilah yang menjadi cikal bakal hujan di Indonesia. Lalu bagaimanakah dengan musim kemarau? Ketika sinar Matahari lebih fokus ke Bumi bagian utara, maka Bumi bagian utara akan memiliki tekanan udara lebih kecil dibandingkan Bumi bagian selatan, sehingga udara akan mengalir dari selatan ke utara. Udara yang mengalir dari Bumi bagian selatan menuju Bumi bagian utara ini disebut angin muson timur. Sebelum melewati wilayah Indonesia, angin muson timur akan melewati daratan asia sehingga hanya sedikit uap air yang dibawa. Jika uap air sedikit maka intensitas hujan kecil sehingga di Indonesia terjadi musim kemarau. Ingatlah bahwa musim kemarau bukan berarti tidak pernah terjadi hujan sama sekali selama 6 bulan, akan tetapi intensitas terjadinya  hujan dalam kurun waktu tersebut sangat rendah.

b. Daerah 4 Musim

Untuk memulai pembahasan mengenai daerah 4 musim, coba bayangkan kamu tinggal di Bumi bagian utara misalnya saja di daerah eropa yang mengalami 4 musim setiap tahunnya.  Di Bumi bagian utara, musim panas terjadi mulai Bulan Mei hingga Bulan Juli, musim gugur terjadi mulai Bulan Agustus hingga Bulan Oktober, musim dingan terjadi mulai Bulan November hingga Bulan Januari, dan musim semi terjadi mulai Bulan Februari hingga Bulan April. Perhatikanlah Gambar 5.33 berikut ini.

Berdasarkan Gambar 5.33 di atas, Belahan Bumi utara akan mengalami musim panas pada Bulan Mei hingga Bulan Juli yaitu saat Matahari fokus menyinari Bumi bagian utara. Bulan Agustus hingga Bulan Oktober, fokus sinar Matahari bergeser meninggalkan Bumi bagian utara menuju Khatulistiwa. Pada waktu ini, pohon-pohon di belahan Bumi utara banyak menggugurkan daunnya sehingga disebut musim gugur. Bulan November hingga Bulan Januari, fokus sinar Matahari beralih ke Bumi bagian selatan, hal ini berarti waktu dimana belahan Bumi utara mendapatkan sinar Matahari yang sangat sedikit sehingga terjadi musim dingin. Musim dingin ditandai dengan turunnya salju di belahan Bumi utara. Bulan Februari hingga Bulan April terjadi musim semi yaitu saat fokus sinar Matahari kembali beralih menuju Khatulistiwa. Pada waktu ini, pohon-pohon di belahan Bumi utara yang tadinya “gundul” setelah menggugurkan daunnya kembali bersemi ditumbuhi oleh daun-daunnya.

c. Daerah Tanpa Musim

Jika kamu kembali perhatikan Gambar 5.31, maka daerah tanpa musim yang dimaksudkan adalah daerah Kutub. Ya, di Kutub memang tidak ada musim, hanya terjadi siang selama 6 Bulan dan malam selama 6 Bulan. Bumi memiliki dua buah kutub yaitu Kutub utara dan Kutub selatan. Kutub selatan Bumi memiliki suhu yang lebih rendah dibandingkan Kutub utara Bumi.

Setelah kamu membaca peristiwa-peristiwa alam yang muncul akibat gerak revolusi Bumi, buatlah rangkuman dengan tema dampak revolusi Bumi kemudian ikutilah kegiatan Ayo Berdiskusi 5.2 berikut ini.

 

Sebagai daerah yang mendapatkan pancaran sinar Matahari terbanyak dalam kurun waktu satu tahun, Indonesia dan daerah-daerah 2 musim lainnya merupakan tempat paling ideal berkembangnya berbagai macam jenis flora dan fauna. Diantara jenis fauna yang hanya dapat berkembang biak di Indonesia adalah Komodo, Orang Utan, Lutung Jawa, Tarisus Sulawesi, Burung Merak, dan Burung Cendrawasih. Adapun jenis flora yang hanya ada di Indonesia antara lain Melati dan Anggrek Macan.

Komodo

Komodo adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Komodo juga disebut dengan nama Ora.

 

Orang Utan

Orang Utan adalah sejenis kera besar dengan lengan panjang dan berbulu kemerahan atau coklat. Orang Utan ditemukan di wilayah hutan hujan tropis Asia Tenggara, yaitu di pulau Borneo dan Sumatra di wilayah bagian Negara Indonesia.

 

 

 

Lutung Jawa

Lutung Jawa merupakan salah satu jenis lutung asli Indonesia. Lutung Jawa bisa disebut juga Lutung Budeng mempunyai ukuran tubuh yang kecil sekitar 55 cm dengan ekor yang panjangnya mencapai 80 cm.

 

Tarisus Sulawesi

Tarisus tarsier (Binatang Hantu) adalah suatu jenis primate kecil, memiliki tubuh berwarna coklat kemerahan dengan warna kulit kelabu, bermata besar dengan telinga menghadap ke depan dan memiliki bentuk yang lebar.

 

Burung Merak Hijau

Merak Hijau merupakan salah satu dari tiga spesies merak yang terdapat di dunia. Satwa yang tersebar di Cina, Vietnam dan Indonesia ini mempunyai bulu-bulu yang sangat indah. Apalagi Merak Hijau jantan yang memiliki ekor panjang yang mampu mengembang bagai kipas.

 

Burung Cendrawasih

Cendrawasih merupakan burung khas dari Papua. Kekhasan burung ini terdapat pada bulu indahnya. Dan bulu indah ini hanya dimiliki oleh Cendrawasih jantan saja. Umumnya warna-warni bulu ini sangat cerah dengan kombinasi banyak warna.

 

Bunga Melati

Bunga Melati merupakan spesies melati yang berasal dari Asia Selatan. Tanaman perdu ini tersebar mulai dari daerah Hindustan, Indochina, Malaysia, hingga ke Indonesia. Bunga melati putih ditetapkan sebagai puspa bangsa, satu diantara tiga bunga nasional Indonesia.

 

Anggrek Macan

Tanaman ini tersebar luas di Sumatera, Kalimantan, Jawa hingga Papua. Oleh karena itu tidak heran bila banyak ditemukan varian-variannya dengan bentuk tanaman dan corak bunga yang sedikit berbeda.

 

 

Rangkuman

  • Gerak rotasi Bumi menyebabkan peristiwa pergantian siang dan malam, gerak semu harian Matahari, perbedaan zona waktu, dan perbedaan percepatan gravitasi Bumi.
  • Kota Greenwich di Inggris dijadikan sebagai lokasi penentuan acuan waktu Internasional
  • Greenwich Mean Time (GMT) adalah satuan waktu Internasional yang mengacu pada waktu Kota Greenwich
  • Indonesia terbagi ke dalam 3 zona waktu yaitu WIB, WITA, WIT
  • Gerak revolusi Bumi menyebabkan peristiwa gerak semu tahunan Matahari, perbedaan lama waktu siang dan malam, dan keragaman musim
  • Daearah Khatulistiwa tidak mengalami perbedaan lama waktu siang dan malam
  • Semakin besar nilai lintang suatu daerah maka semakin besar pula selisih lama waktu siang dan malam di daerah tersebut
  • Indonesia memiliki 2 jenis musim yaitu musim hujan dan musim kemarau
  • Musim hujan disebabkan oleh angin muson barat yang membawa banyak uap air
  • Musim kemarau disebabkan oleh angin muson timur yang membawa sedikit uap air